Blog Entryjer@w@t (beeeteee...)Sep 10, '07 2:27 AM
for everyone
Jerawat Oh Jerawat

Sebenernya.ada tiga tipe jerawat, dan ternyata cara penanganannya pun agak berbeda..

TIPE 1: Komedo, sifat & penyebabnya
Komedo adalah nama ilmiah dari pori2 yg tersumbat, bisa terbuka atau
tertutup. Komedo yg terbuka disebut juga sebagai blackhead, terlihat
seperti pori2 yg membesar dan menghitam (yang berwarna hitam itu bukan kotoran; sebenarnya itu adalah penyumbat pori yg berubah warna krn teroksidasi dgn udara). Komedo yg tertutup, atau whitehead, memiliki kulit yg tumbuh di atas pori2 yg tersumbat; makanya terlihat spt tonjolan putih kecil2 dibawah kulit. Jerawat jenis komedoini disebabkan oleh sel2 kulit mati dan kelenjar minyak yg berlebihan pd kulit. Bila anda tdk meng-exfoliate (bisa dengan scrub, cuci muka dgn waslap,memakai sabun muka mengandung salicylic acid atau yg mengandung AHA/BHA, dll) kulit wajah secara berkala, sel2 kulit mati menumpuk di kulit; minyak di permukaan kulit kemudian menutup sel2 kulit, terjadilah penyumbatan. Makeup dan produk penataan rambut yang mengandung minyak dapat memperparah keadaan. Berkeringat dan udara yg panas dan lembab dapat juga menyumbat pori2.

Pencegahan
Cuci selalu wajah pagi dan malam dengan pembersih mengandung
salicylic-acid atau AHA/BHA untuk mengelupas sel2 kulit mati. Atau
scrub kulit wajah minimal seminggu sekali. Bawalah selalu kertas
penyerap minyak untuk menyerap kelebihan minyak di wajah. Gunakan
juga masker utk kulit berminyak seminggu sekali.

Penyembuhan
Hilangkan blackheads dengan plester pore strips (seperti Biore pore
pack atau Pond's nose zone tape). Untuk whitehead, pakai obat jerawat
yg mengandung salicylic-acid (misalnya dari merk Neutrogena atau
Clinique acne solutions night treatment gel).

TIPE 2 : Jerawat Biasa, sifat & penyebabnya
Jenis jerawat `klasik' ini mudah dikenal, tonjolan kecil berwarna
pink atau kemerahan. Terjadi krn pori2 yg tersumbat terinfeksi dgn
bakteri. Bakteri ini bisa yg terdapat dipermukaan kulit, bisa juga
dari waslap, kuas makeup, jari tangan, juga telepon. Stress, hormon
dan udara yg lembab dpt memperbesar kemungkinan infeksi jerawat, krn menyebabkan kulit memproduksi minyak, yang merupakan tempat
berkembang-biaknya bakteri. Jerawat yg disebabkan oleh hormon
biasanya muncul di sekitar rahang dan dagu, menurut seorang ahli
kulit, yang merekomendasikan pemakaian pil KB yang rendah estrogen,
spt Orthotricyclen, Orthocept dan Alesse. (Untungnya, menurut
penelitian ternyata coklat dan French fries tidak mempunyai pengaruh
pada berbiaknya jerawat).

Pencegahan
Untuk membunuh bakteri2 penyebab jerawat, gunakan sabun muka yg
mengandung benzoyl-peroxida, atau sabun sulfur. Dan gunakan masker anti bakteri/jerawat seminggu sekali. Kalau obat2 jerawat yg dijual bebas tidak mempan, mintalah ke dokter kulit obat jerawat yg
mengandung vitamin A derivatif seperti Retin-A.

Penyembuhan
Untuk mengurangi peradangan dan membunuh bakteri, pakailah obat
jerawat yg mengandung benzoyl-peroksida, atau bila kulit anda tdk
tahan, gunakan produk yg mengandung sulfur, spt Neo Medrol atau
mujisat tolak jerawat dari Sari Ayu. Kalau obat2 jerawat tadi tidak
mempan juga, mintalah resep salep yang mengandung antibiotik,salah satunya Garamicyn (bisa dibeli bebas). Salep ini bisa membunuh
bakteri dan mengurangi pembengkakan juga peradangan.

TIPE 3: Cystic Acne (Jerawat Batu/Jerawat Jagung), sifat dan
penyebabnya
Sering disebut sebagai jerawat segede jagung. Bila anda merasa muka
anda seperti pizza yg penuh topping, nah.inilah cystic-acne;
jerawat yg besar, dgn tonjolan2 yg meradang hebat, berkumpul di
seluruh muka (berbeda dgn jerawat biasa yang berkumpul di salah satu
bag. muka). Inilah `godfather'nya jerawat, yang paling merusak tidak
hanya secara fisik, tapi juga kepercayaan diri. Penderita cystic-acne
biasanya juga memiliki keluarga dekat yg juga menderita jerawat jenis
ini; secara genetic penderitanya memiliki (1) kelenjar minyak yang
over-aktif yg membanjiri pori2 dgn minyak, (2) pertumbuhan sel2 kulit
yg tidak normal yg tdk bisa beregenerasi secepat kulit normal dan (3)
memiliki respons yg berlebihan terhadap peradangan sehingga
meninggalkan bekas di kulit.

Pencegahan
Obat2 jerawat yg dijual bebas tidak akan mempan buat jerawat jenis
ini. Memakai scrub pun tidak akan ada hasilnya. Jalan satu2nya adalah
meminta dokter meresepkan pil antibiotik seperti tetracycline. Bila
dalam sebulan tidak ada tanda2 perbaikan, mungkin dokter akan
memberikan resep Accutane (kurang pasti di Indonesia sudah ada atau belum), obat yg efektif, tapi kontroversial. Meskipun penyembuhannya memakan waktu hingga 5 bln, dan dapat mengakibatkan bayi cacat pada ibu hamil, tapi tetep aja dianggap sebagai obat mujarab pilihan terakhir.

Pengobatan
Untuk jerawat batu yang satu-satu, penyembuhan yg efektif adalah
meminta dokter kulit menyuntik jerawat dengan cortisone, yg membuat
jerawat ini sembuh dlm waktu 48 jam. Kalau kasusnya kronis, pil
Accutane bisa dicoba, meskipun anda bakal mengalami beberapa side
effect, seperti bibir pecah2 yg parah (minta dr.kulit anda meresepkan
Acclovate, lip balm anti peradangan) dan kulit yg kering.


Blog Entrycint@...Sep 3, '07 4:30 AM
for everyone
Good story....
 
MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau
menikah dengan lelaki itu.
Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu
sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik
banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania.
Mereka ternyata sama herannya.
"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
 
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari
sidang yang baru saja berlalu.
Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan
lampu neon limabelas watt.
Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak
melebihi kapasitas.
Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari
sana .
Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya
kata-kata!
 
 
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan
spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di
kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang
pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli
untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena
semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang
sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
 
"Kamu pasti bercanda!"
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua,
disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan
Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania
bercanda.
 
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang
balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang
melamarnya.
"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli
berani melamar anak Papa yang paling cantik!"
 
 
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda
baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu
berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh
seleidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
 
 
"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan ?" Mama mengambil inisiatif
bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa,
 
"Maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak
harus iya, toh?"
Nania terkesima.
 
"Kenapa?"
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana,
sampai lomba beladiri.
Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu
bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu
yang lain pun luar biasa.
Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
 
 
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,
kakak-kakak, dan terakhir Mama.
Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang
barusan Nania lontarkan.
"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di
kelopak.
 
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat
tidak menyukai Rafli.
Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
"Tapi kenapa?"
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan
biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat
biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
"Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"
 
 
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi
parameter kebaikan seseorang menjadi manusia.
Di mana iman hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan
melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali
karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya.
 
Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak
'luar biasa'.
Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania
menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga.
Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
 
 
***
 
 
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di
belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania
masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di
mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga
Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara
dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat
bahagia.
 
 
"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak
percaya.
"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"
"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"
"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!"
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini
dilakukannya sungguh-sungguh.
Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
 
 
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan ?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
 
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka
beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
 
 
"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan
tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah
menikah dan sebentar lagi punya anak.
 
 
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu
perempuan.
Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki
anak-anak.
Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup
senang.
"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu
memforsir diri.
"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu.
Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa
menangkap hanya maksud baik.
 
 
"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"
Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut.
Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat
pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan
pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat
sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
 
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang,
uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu,
dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan
itu berada di puncak!
 
 
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan
bergandengan mesra.
Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik
saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
 
 
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania
belajar untuk bersikap cuek tidak peduli.
Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak.
Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga.
Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat
Nania menangis.
 
 
***
 
 
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari
waktunya.
"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
dikeluarkan!"
 
 
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam
rahim Nania.
Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan
sakit yang teramat sangat.
Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat
si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit.
Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
 
 
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat
pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan
melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi
pembukaan berjalan lambat sekali.
 
 
"Baru pembukaan satu."
"Belum ada perubahan, Bu."
"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian
menyemaikan harapan.
"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa
memiliki sense of humor yang tinggi.
 
 
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah,
didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu
kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
"Masih pembukaan dua, Pak!"
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang
sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah.
Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
"Bang?"
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
 
"Dokter?"
"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."
Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran.
Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu
kamar operasi.
Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
 
 
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat
ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan
dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu
yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir,
telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan
langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki
itu tak berhenti memanjatkan doa.
 
 
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
"Pendarahan hebat."
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!
Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
 
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
 
 
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung
beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya
dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
 
 
***
 
 
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari
kediamannya ke rumah sakit.
Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota
keluarganya yang baru, si kecil.
Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya.
Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah
sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak
banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
 
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah
sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan
tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh.
Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
 
 
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Kitab Suci
kecil,
dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili
mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan
bercanda mesra.
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
 
"Nania, bangun, Cinta?"
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan
kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir
untuk pasrah, Rafli masih berjuang.
Datang setiap hari ke rumah sakit,mengaji dekat Nania sambil menggenggam
tangan istrinya mesra.
Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan
membacanya
dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak
bosan-bosannya berbisik,
"Nania, bangun, Cinta?"
 
 
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan.
Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal.
Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir
Nania, semua yang menjadi sumber
semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanp kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya.
 
Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak
bercukur,
atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata,
gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya
yang cantik.
Nania sudah tidur terlalu lama.
 
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat
Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan
mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata
yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
 
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.
Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun
terakhir.
Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per
satu.
Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan
menggendong Nania ke teras, melihat senja
datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh
cinta.
 
 
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia
ingin Nania selalu merasa cantik.
Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu.
Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu
meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan
paling cantik dan sempurna di dunia.
Setidaknya di mata Rafli.
 
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar.
Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran,
nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti
juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu
bertahun-tahun.
 
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di
sekitarnya.
Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat
mendorong kursi roda Nania ke sana kemari.
Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
 
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya dijalan,
juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya
memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh,
semuaberbisik-bisik.
"Baik banget suaminya!"
"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
"Nania beruntung!"
"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."
"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya
memandang penuh cinta.
Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
 
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi,
merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian.
Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya
akan selalu begitu.
Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
 
 
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.
Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan.
Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar
yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski
tubuhnya tak berfungsi sempurna.
Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut
takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa
yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Blog Entrynonton harry potter ihks...ihks...Jul 11, '07 10:56 PM
for everyone

aduchh kmarin akyu nonton film perdananya...duch keseel soalnya critranya ringkas bgt trus mnrut akyu sich lebih seru baca bukunya dr pd nonton filmmya.Pd hal akyu udah menantikan pngen bgt membuktikan apa yg akyu bayangin saat bc bukunya ama nonton filmnya (allllaaaaah....) trnyata akyu sdikit kuciwa byak bgt crita yg ada di bukunya yg kagak ada di filmya.tp gpp stidaknya akyu dah liat filmnya.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help